Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Bantah AMDK Galon Isi Ulang Penyebab Autis

Sabtu, 19 Agustus 2023 – 23:58 WIB

Jakarta – Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Rini Sekartini, memastikan tidak ada kaitannya sama sekali air minum dalam kemasan (AMDK) galon isi ulang dengan penyebab penderita autis pada anak-anak. Menurutnya, hingga saat ini belum ada satupun penelitian yang mengungkap penyebab pasti terjadinya autis. 
 
“Penyebab autis itu masih multifaktor seperti faktor genetik dan lingkungan. Ada juga karena infeksi masa lampau, dan itu bisa terjadi. Tapi, yang pasti air galon isi ulang tidak menjadi penyebab autis. Itu sudah pasti salah,” kata Rini dalam keterangan yang diterima, Sabtu 19 Agustus 2023.

Baca Juga :

Galon Bakal Dilabeli BPA, BPOM Tegaskan untuk Lindungi Kesehatan Masyarakat

Ilustrasi galon.

 Menurutnya, AMDK galon isi ulang itu justru sangat baik untuk kesehatan karena mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. 

Baca Juga :

Polda Metro Ungkap Video Gay Kids Ternyata Dibanderol Seharga Rp 10 Ribu untuk Ratusan Foto

“Kalau dikatakan bisa menyebabkan autis, seharusnya sudah banyak anak-anak di Indonesia yang menderita autis karena yang minum air galon kan banyak. Tapi, nyatanya, yang autis bisa dihitung jari,” ujarnya.
 
Dulu, kata Prof. Rini, ada penelitian yang mendukung pengaruh zat tembaga logam terhadap penyebab autis ini. Tapi, lanjutnya, tidak konklusif juga bahwa penyebab autis itu karena logam ini. “Akhirnya, penelitian ke arah situ juga makin jarang dilakukan,” ujarnya. 
 
Karenanya, pencarian penyebab autis itu pun tidak lagi menjadi perhatian saat ini. “Biasanya pada anak autis, kita nggak mencari pasti penyebabnya. Pemeriksaan darah, CT Scan, biasanya tidak kita lakukan. Kita langsung masuk ke intervensi untuk penanganannya,” tuturnya.
 
Untuk penanganan anak-anak autis itu dilakukan tergantung gejalanya. Menurut Prof. Rini, karena autis itu merupakan gangguan perilaku, jadi penanganannya juga harus dengan memperbaiki perilakunya. Terapinya dilakukan dengan berbagai cara,  ada terapi sensor integrasi, ada okupasi, ada terapi wicara, dan terapi perilaku. “Jadi, ada multifaktor untuk terapinya,” paparnya.
 
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa yang bisa terjadi pada anak autis itu adalah suka mengalami alergi makanan. Misalnya alergi susu sapi dan alergi makanan laut. “Tapi, itu juga tidak semua anak alergi itu jadi dikatakan menderita autis,” ucapnya .
 
Dia mengatakan autis itu bisa dibagi menjadi autis ringan, sedang, dan berat. Untuk mendeteksinya biasanya ditentukan menggunakan perangkat skrining berupa kuesioner yang namanya M-CHAT-R. 

Baca Juga  M5.1 Earthquake Hits Indonesia's Sulawesi

Anak dengan gejala ada kontak matanya sebentar itu biasanya masuk autis ringan. Jika gejalanya tidak ada kontak mata tapi anaknya tidak cuek, itu masuk autis sedang. “Tapi, yang sama sekali cuek dan  nggak ada kontak mata biasanya kita masukkan kategori autis berat,” tuturnya.
 
Ditemui di tempat yang sama, Angel, ibu yang memiliki anak autis bernama Yujin  bercerita awalnya putranya ini terlihat masih biasa-biasa saja, di mana milestone-nya sesuai dengan perkembangan buku panduan dokter. 

Baca Juga :

Abidzar Al Ghifari Masuk UGD, Umi Pipik Langsung Buru-buru ke RS

Tapi, saat berusia 1,5 tahun anaknya memiliki keanehan, di mana saat bermain mobil-mobilan sering rodanya dibalikkan jadi ke atas dan suka memutar-mutar rodanya. Fungsi mainan itu tidak dijalankan dengan semestinya. “Tapi, saya berpikir saat itu bahwa itu hal yang wajar saja,” katanya.
 
Lalu, saat berusia 1,8 bulan, Angel menitipkan anaknya ke penitipan anak dengan tujuan supaya bisa bersosialisasi. Tapi, oleh pihak penitipan anak, dia disarankan untuk membawa anaknya ke klinik tumbuh kembang anak. 

Pada usia 1 tahun 10 bulan, dia pun membawa anaknya ke sana. Setelah konsultasi dengan psikolog, dikatakan bahwa anaknya butuhnya terapi Sensory Integration (SI) dan bukan terapi wicara. Karena, terapi wicara itu dikatakan akan mengikuti. 
 
Kemudian setelah mengikuti terapi SI, menurut Angel, anaknya yang saat itu sudah berusia 3 tahun sudah mulai bicara cuap-cuap  tapi tidak bermakna. Baru kemudian, dia disarankan agar anaknya melakukan terapi wicara. 

img_title



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *